Laman

Senin, 09 Juni 2014

Kisah Sang Guru Honorer Sekarang Jadi Pedagang Kopi



Jakarta - Lalu-lalang orang-orang berjalan di sisi-sisi jalan sepanjang Jl Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur. Panas siang yang memanggang itu membuat Kakek Afifudin (62) tersenyum mencium aroma rezeki yang harum.

Semakin panas membikin orang semakin ingin minum, semakin lelah sebagian orang senang menenggak kopi. Semakin banyak pula orang yang bertandang di lapak 2x1 meter persegi di tepian Kantor Pos Jatinegara.


“Baru satu setengah tahun saya jualan kopi begini. Sebelumnya di sini juga sudah lima tahunan lah, tapi jadi tukang sapu. Sebelumnya lagi pindah-pindah kerjaan. Jadi guru juga pernah waktu dulu,” kata Kakek Afif ketika hari Senin (2/6/2014).

Baju khas tenaga pendidik pun dikenakan oleh Kakek Afif sambil berjualan di hari itu. Ada cerita dibalik guratan sayap pada lambang abdi negara yang menempel di baju putih Kakek Afif.

“Saya belum jadi PNS waktu itu. Masih honorer pertamanya. Pertama jadi guru itu saya waktu umur 25 tahun sampai kira-kira umur 28 lah,” kenang Kakek Afif.

“Saya waktu jadi guru honorer itu sering dipotong gaji saya. Tiap bulan setiap terima gaji malah berantem terus sama yang ngasih gaji. Daripada saya kerja jadi nggak ikhlas akhirnya saya pindah ngajar di Madrasah,” tutur Kakek Afif.

Kakek Afif kemudian menceritakan ketika dirinya menjadi guru Pendidikan Agama Islam di sebuah Madrasah swasta yang terletak di kampung dia di Garut, Jawa Barat. Bertahan dia di sana selama dua puluh tahun yang justru tak digaji.

“Karena ikhlas itu kemudian ada orang tua murid yang kasih. Ada yang kasih sembako, sayuran, macam-macam pokoknya. Saya malah lebih suka dari awal dibilang nggak dibayar biar saya ikhlas daripada bilang dibayar tapi dipotong terus upahnya,” ucap Kakek Afif.

Sekarang Kakek Afif sudah di usia senja. Tak mampu lagi mengajar karena seorang pengajar haruslah dinamis menimba ilmu mengikuti perkembangan. Dia merasa sudah tak mampu lagi mengajar dengan baik.

Satu-satunya yang dia bisa saat ini hanyalah berdagang, menunggu dagangan laku terjual. Menunggu dengan penuh tanya kapan waktu berganti menghantarkan kehidupan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.


Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews

DAFTAR BLOG TER-UPDATE